Fenomena Traktiran Pegawhy CPNS Setelah Diangkat Menjadi PNS:
Pendahuluan

Di banyak tempat kerja modern, terutama di sektor publik, muncul fenomena menarik di mana pegawai baru (CPNS) diwajibkan mentraktir rekan kerja setelah diangkat menjadi PNS. Praktik ini sering dianggap sebagai ungkapan syukur atau kewajiban sosial. Namun, kebiasaan ini juga mencerminkan permasalahan yang lebih mendalam terkait motivasi kerja, kepuasan kerja, dan budaya organisasi. Fenomena ini perlu ditelusuri lebih dalam, karena bisa jadi mencerminkan sistem senioritas atau bahkan feodalisme yang berpotensi merugikan dinamika organisasi dan menurunkan kinerja pegawai.
Fenomena Traktiran dan Budaya Senioritas
Praktik traktiran ini menjadi salah satu bentuk pengakuan sosial tak tertulis di lingkungan PNS, di mana pegawai baru merasa diwajibkan untuk mentraktir rekan kerja setelah resmi dilantik menjadi PNS. Budaya ini berakar pada hierarki sosial dalam banyak organisasi, yang menempatkan pegawai senior pada posisi yang lebih dihormati dan memiliki hak lebih. Hal ini sejalan dengan konsep senioritas, di mana yang lebih berpengalaman atau lebih lama bekerja dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi.
Namun, dalam praktiknya, budaya senioritas ini sering menumbuhkan perasaan ketidakadilan di kalangan pegawai baru. Mereka jadi merasa dihargai lebih jika mengikuti norma sosial, seperti mentraktir, daripada dihargai berdasarkan kinerja atau kontribusi mereka dalam organisasi.
Budaya Traktiran pada Pengangkatan CPNS ke PNS dan Dampaknya pada Budaya Organisasi di Sektor Publik
Luthans (2021) mengemukakan bahwa budaya organisasi memiliki beberapa prinsip penting yang saling berkaitan, yang juga relevan dengan fenomena traktiran di sektor publik. Kelima prinsip tersebut meliputi: pertama, regularitas perilaku yang teramati, di mana pegawai menggunakan bahasa, istilah, dan ritual bersama yang mencerminkan penghormatan terhadap senioritas. Kedua, norma, yang mencakup standar perilaku dalam organisasi, seperti norma tidak tertulis yang mengatur berapa banyak pekerjaan yang seharusnya dilakukan tidak berlebihan, tidak juga kurang. Ketiga, nilai dominan, yang merupakan nilai inti yang diterima bersama dalam organisasi, seperti loyalitas sosial dan hubungan antara pegawai senior dan junior.
Keempat, filosofi organisasi, yang mencakup keyakinan tentang bagaimana pegawai harus diperlakukan, termasuk dalam hal interaksi sosial seperti traktiran. Kelima, aturan, yang mencakup pedoman ketat tentang bagaimana pegawai baru harus berperilaku untuk diterima dalam organisasi, salah satunya dengan mengikuti tradisi sosial seperti traktiran untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial yang ada. Prinsip-prinsip ini menggambarkan bagaimana budaya organisasi yang ada dapat memperkuat budaya senioritas dan mengarah pada pengabaian prinsip meritokrasi dalam tempat kerja.
Senioritas vs. Feodalisme

Jika budaya senioritas dapat dianggap sebagai hubungan hierarkis yang lebih mengarah pada penghormatan terhadap pengalaman, feodalisme dalam organisasi terjadi ketika hubungan kekuasaan dalam organisasi menjadi sangat tidak seimbang. Dalam konteks ini, senioritas yang dipaksakan bisa beralih menjadi feodalisme, dimana pegawai senior merasa berhak mendapatkan lebih banyak, baik dalam bentuk penghargaan sosial maupun material. Ini jelas mengarah pada ketidakadilan, terutama jika yang baru diangkat merasa terpaksa untuk mematuhi tradisi ini sebagai bentuk loyalitas terhadap senioritas yang ada.
Saran untuk Organisasi
Fokus pada Meritokrasi: Prioritaskan penghargaan dan promosi berdasarkan kompetensi dan kinerja pegawai, bukan tradisi sosial yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
Ciptakan Budaya Profesional: Bangun budaya organisasi yang menekankan keadilan, transparansi, dan penghargaan berdasarkan pencapaian kerja.
Kurangi Tekanan Sosial: Hindari praktik yang dapat menciptakan tekanan sosial, seperti traktiran, yang bisa mengalihkan fokus dari tugas utama pegawai.
Edukasi Pegawai Baru: Berikan orientasi yang jelas tentang nilai-nilai profesionalisme dan standar kerja yang diharapkan dalam organisasi.
Saran untuk Individu
Berfokus pada Kinerja: Prioritaskan pencapaian kerja yang baik sebagai cara utama untuk mendapatkan pengakuan di tempat kerja.
Bangun Relasi Positif Tanpa Tekanan Sosial: Jalin hubungan kerja yang sehat dengan rekan-rekan tanpa merasa terpaksa mengikuti tradisi sosial yang tidak produktif.
Tetap Profesional: Hindari terjebak dalam budaya yang mengutamakan loyalitas sosial daripada kontribusi nyata dalam pekerjaan.
Komunikasi Terbuka: Jika merasa ada tekanan sosial yang tidak sesuai, komunikasikan dengan cara yang profesional kepada atasan atau netijen ombudsman
Kesimpulan
Budaya traktiran setelah CPNS diangkat PNS yang berhubungan dengan senioritas dapat memengaruhi dinamika dalam organisasi sektor publik. Praktik ini sering kali memperkuat hubungan sosial yang berfokus pada loyalitas sosial, sementara pengakuan terhadap kompetensi dan kinerja pegawai belum tentu menjadi prioritas utama. Untuk menciptakan budaya organisasi yang lebih sehat dan profesional, penting untuk memastikan bahwa penghargaan dan pengakuan diberikan berdasarkan kinerja dan kontribusi nyata pegawai, serta mengurangi tekanan sosial yang tidak terkait langsung dengan tugas atau tanggung jawab pekerjaan.
Referensi
- Luthans, F., & Youssef-Morgan, C. M. (2021). Positive workplaces. In C. R. Snyder, S. J. Lopez, L. M. Edwards, & S. C. Marques (Eds.), The Oxford handbook of positive psychology (3rd ed., pp. 820–831). Oxford University Press.
Komentar
Masuk untuk ikut berdiskusi.
Masuk