Lewati ke konten
Sharing ASN

Saat ASN Kompeten Malah Mendapatkan Hukuman yang Mungkin Enggak Disadari

AAdministrator ·24 Agustus 2026·7 menit baca

Pendahuluan: Yang Kompeten, Yang Kena “Hukuman”

Ada satu jenis "pajak" yang nggak pernah muncul di slip gaji, tapi tagihannya paling terasa: competency tax berupa hukuman tak tertulis di tempat kerja, di mana pegawai yang cepat, rapi, dan bisa diandalkan justru "dihadiahi" tapi bukan promosi, melainkan tumpukan kerja ekstra sampai akhirnya dia “habis“ (Jesse, 2026). Praktisi HR menyebut pola yang sama dengan istilah performance punishment, yaitu ketika performa yang kuat berujung pada beban kerja yang terus membesar alih-alih pertumbuhan karier (People Management, 2026). Di Indonesia, tekanan serupa terbaca jelas: jumlah pegawai menyusut karena pensiun tanpa regenerasi yang memadai, sementara satu ASN kerap merangkap dua hingga tiga peran sekaligus (Prokalteng, 2025). Konteks itulah yang membuat isu ini relevan banget buat ASN generasi muda, karena kelompok ini yang paling sering dititipi "kerjaan tambahan" dengan alasan melek digital dan cepat belajar (Kompas.com, 2026c).

Hasl Survei

Dari 'Tolong Bantu' Jadi 'Semua Jadi Kerjaan Aku'

Secara ilmiah, competency tax punya nama: illegitimate tasks atau tugas tak sah, yakni pekerjaan yang dianggap tidak perlu (unnecessary) atau tidak wajar (unreasonable) karena melampaui batas peran profesional seseorang (Fältén et al., 2025). Tugas semacam ini bukan sekadar bikin repot, tetapi juga tergolong identity stressor karena menyerang rasa dihargai dan citra profesional pegawai (Ouyang et al., 2022). Riset lintas negara secara konsisten mengaitkannya dengan kelelahan emosional; survei terhadap 562 tenaga kesehatan di Guayaquil menemukan korelasi positif yang signifikan antara tugas tak sah dan burnout (Moncayo-Rizzo et al., 2024). Mekanisme psikologisnya berjalan lewat effort–reward imbalance: usaha yang dikeluarkan terus bertambah sementara imbalan berupa uang, penghormatan, dan peluang karier jalan di tempat alias kagak ada (Zeng et al., 2021). Ketimpangan itu lalu berkembang menjadi konflik hubungan antara kerja–keluarga dan berujung pada niat resign (Zeng et al., 2021). Jadi kalau kamu merasa "kok makin bisa, makin nggak dihargai", itu bukan baper, itu temuan riset ilmiah!.

Kenapa Birokrasi Jadi Lahan Paling Subur

Sektor publik memiliki kombinasi kondisi yang membuat competency tax tumbuh cepat, karena struktur birokratis, keterbatasan sumber daya, dan keterbatasan kepemimpinan sama-sama mendorong menjamurnya tugas tak sah (Nguyen et al., 2025). Fenomena beban berlebih di birokrasi bahkan sudah punya nama sendiri dalam literatur administrasi publik, yaitu bureaucratic overburdening, yang telah terdokumentasi di banyak demokrasi maju (Fernández-i-Marín et al., 2024). Studi multilevel terhadap 1.721 pegawai di Swedia menunjukkan bahwa makin banyak tugas tak perlu dan tak wajar, makin turun keterikatan kerja, makin naik stres, dan makin besar niat untuk pindah kerja (Fältén et al., 2025). Di konteks Indonesia, pemicunya sangat konkret: pegawai teknis yang pensiun sering tidak segera tergantikan sehingga guru merangkap administrasi, nakes mengisi pelaporan berlapis, dan staf teknis sekaligus memegang fungsi perencanaan (Prokalteng, 2025). Penyederhanaan struktur jabatan pun berisiko berubah menjadi pemadatan tugas tanpa batas jika tidak dibarengi dengan penyeimbangan beban kerja (Prokalteng, 2025). Ironisnya, pada saat yang sama ASN tetap dituntut berinovasi, padahal tugas tak sah justru terbukti menggerus fleksibilitas kognitif yang menjadi bahan bakar inovasi itu sendiri (Nguyen et al., 2025).

'ASN Elit' vs 'ASN Sulit'

Kasus yang Ramai di Media Nasional

Pada Juni 2026, Gubernur Jawa Barat memunculkan istilah "ASN elit" dan "ASN sulit" untuk menggambarkan polarisasi di tubuh birokrasi (Kompas.com, 2026a). Menurutnya, sistem pengelompokan tunjangan kinerja berbasis Organisasi Perangkat Daerah belum mencerminkan asas keadilan dan beban kerja riil di lapangan (Media Indonesia, 2026). Ia mencontohkan ASN di Badan Pendapatan Daerah dan Badan Pengelolaan Keuangan yang menerima tunjangan besar dengan tugas relatif ringan, sementara personel Satpol PP dan penyuluh pertanian yang berhadapan langsung dengan risiko di lapangan justru menerima tunjangan lebih kecil (Kompas.com, 2026b). Ia bahkan mengaku sudah mengusulkan kepada KemenPANRB agar pegawai yang bekerja lebih keras memperoleh tunjangan lebih tinggi, namun usulan itu belum bisa diakomodasi karena belum ada aturan terkait (Media Indonesia, 2026). Kasus ini penting karena menunjukkan competency tax bukan sekadar soal atasan yang "nggak enakan", melainkan juga bisa terkunci pada level desain kebijakan remunerasi (Bisnis.com, 2026). Dan inilah persis yang diprediksi oleh teori keadilan distributif: ketika pembagian hasil dianggap tidak sebanding dengan kontribusi, niat untuk ikut pergi meningkat (Ouyang et al., 2022).

Efek Domino: Dari Diam-Diam Retak sampai Inovasi Mati

Competency tax jarang berakhir dengan ledakan; lebih sering berakhir dengan quiet cracking, yaitu kondisi ketika pegawai tetap masuk kerja, tetapi diam-diam tergerus oleh tekanan, ketidakjelasan ekspektasi, dan karier yang mandek (People Matters, 2026). Berbeda dari quiet quitting yang merupakan pilihan sadar, quiet cracking adalah erosi involunter yang berawal dari sistem yang kelebihan beban dan tim yang tidak didukung (Perceptyx, 2026). Yang bikin ngeri, kondisi ini bisa bersembunyi di balik performa tinggi yang tampak berkelanjutan, sehingga atasan baru sadar saat surat pengunduran diri sudah di meja (IEEE-USA InSight, 2026). Di sektor publik, dampaknya berlapis karena tugas tak sah terbukti menekan perilaku kerja inovatif melalui penurunan fleksibilitas kognitif (Nguyen et al., 2025). Konsekuensi organisasionalnya juga telah terdokumentasi: keterikatan kerja menurun, stres meningkat, dan niat keluar meningkat (Fältén et al., 2025). Di Indonesia, gejalanya sudah dinamai structural burnout, kelelahan yang lahir bukan semata-mata dari volume kerja, melainkan dari rasa tidak bermakna di hadapan sistem yang kaku (Kompas.com, 2026c).

Siapa yang Paling Kena? Spoiler: Distribusinya Nggak Netral

Beban tambahan itu ternyata nggak jatuh acak, karena ada kategori pekerjaan bernama non-promotable tasks, yaitu pekerjaan yang penting bagi organisasi tapi hampir nggak berkontribusi pada promosi, seperti menjadi notulis, mengurus acara, membantu pekerjaan orang lain, dan mengoordinasi tim (Babcock et al., 2022). Riset lintas laboratorium dan lapangan menemukan bahwa perempuan menghabiskan hingga 200 jam lebih banyak per tahun untuk pekerjaan jenis ini dibandingkan dengan rekan laki-laki, setara dengan sekitar satu bulan kerja (Babcock et al., 2022). Temuan lain menunjukkan bahwa atasan, baik laki-laki maupun perempuan, 44% lebih mungkin menugaskan pekerjaan non-promotable kepada perempuan, sementara perempuan 48% lebih mungkin menawarkan diri untuk tugas yang tidak diinginkan oleh siapa pun (Babcock et al., 2022). Di lingkungan ASN, pola yang sama menyasar pegawai muda yang dianggap melek digital, sehingga skill modern mereka malah "dikunci" dalam kotak tugas administratif yang usang (Kompas.com, 2026c). Hasilnya adalah disonansi khas: merasa overqualified untuk tugas harian, tetapi under-recognized atas kapabilitas sebenarnya (Kompas.com, 2026c). Dan ketika kerja keras terasa tidak mengubah nasib karier, respons yang muncul bukan kemalasan, melainkan penarikan diri secara emosional (Kompas.com, 2026c).

Saran untuk Instansi

Kuncinya ada pada desain kerja, bukan imbauan semangat mengabdi: instansi perlu menata ulang alokasi tugas agar selaras dengan peran dan kompetensi, sekaligus menjelaskan tujuan sebuah tugas ketika pekerjaan itu memang tak bisa dihapus (Fältén et al., 2025). Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja harus hidup sebagai instrumen manajemen, bukan dokumen formalitas yang hanya diperbarui saat audit (Peraturan Menteri PANRB Nomor 1 Tahun 2020). Pelatihan manajer lini juga bukan barang mewah, karena Gallup menemukan bahwa pelatihan dasar saja mampu memangkas separuh tingkat disengagement manajer (Gallup, 2025). Terakhir, skema tunjangan perlu ditinjau agar mencerminkan beban kerja riil, sebagaimana kritik terbuka terkait polarisasi antara "ASN elit" dan "ASN sulit" (Media Indonesia, 2026).

Saran untuk ASN

Saring permintaan tugas yang masuk dengan tiga pertanyaan: apakah tugas ini terkait langsung dengan misi organisasi, apakah kontribusimu terlihat, dan apakah menggunakan keahlian spesifikmu; makin banyak jawaban "tidak", makin besar kemungkinan itu tugas non-promotable yang porsinya perlu dibatasi (Babcock et al., 2022). Dokumentasikan kerja tak terlihat itu ke dalam laporan kinerja agar kontribusimu berpindah dari "kebaikan hati" menjadi bukti yang terukur (Lattice, 2026). Dan bicarakan kapasitasmu secara terbuka, karena keterbukaan tentang batas justru menopang kinerja jangka panjang (People Management, 2026).

Kesimpulan: Kompeten Itu Aset, Bukan Karung Beban

Competency tax adalah penalti tak tertulis yang mengubah kompetensi dari aset menjadi beban, dan ujungnya bukan promosi, melainkan kelelahan (Jesse, 2026). Akarnya bukan karakter individu, melainkan desain kerja: tugas yang tak sah, ketimpangan usaha–imbalan, dan distribusi beban yang tidak adil terbukti menurunkan keterikatan, meningkatkan stres, serta memperbesar niat untuk pindah (Fältén et al., 2025). Kasus polarisasi "ASN elit" dan "ASN sulit" menunjukkan bahwa di birokrasi Indonesia, persoalannya bisa terkunci hingga level kebijakan tunjangan, bukan sekadar dinamika antarindividu (Kompas.com, 2026a). Kabar baiknya, semua titik itu bisa diintervensi, mulai dari penataan Anjab-ABK, komunikasi tujuan dan tugas, hingga penguatan kapasitas kepemimpinan (Fältén et al., 2025). Buat kamu secara pribadi, kuncinya adalah membuat kontribusi terlihat dan terukur, bukan berhenti berkontribusi (Babcock et al., 2022). Birokrasi yang adil bukan yang menuntut semua orang jadi pahlawan, melainkan yang memastikan nggak ada satu orang pun yang jadi tumbal (Prokalteng, 2025).

Referensi

  1. Bisnis.com. (2026). KDM kritik tukin ASN Jabar belum adil: Pegawai kerja berat malah kalah besar. https://bandung.bisnis.com/read/20260628/549/1983840/kdm-kritik-tukin-asn-jabar-belum-adil-pegawai-kerja-berat-malah-kalah-besar
  2. Fältén, R., Berntson, E., & Bernhard-Oettel, C. (2025). Illegitimate tasks in the public sector—Associations with work engagement, stress, and turnover intention: The moderating role of leadership. Nordic Psychology, 77(4), 372–394. https://doi.org/10.1080/19012276.2024.2444932
  3. Fernández-i-Marín, X., Hinterleitner, M., Knill, C., & Steinebach, Y. (2024). Bureaucratic overburdening in advanced democracies. Public Administration Review, 84(4), 696–709. https://doi.org/10.1111/puar.13725
  4. Gallup. (2025). State of the global workplace: 2025 report. Gallup, Inc.
  5. Gallup. (2026). State of the global workplace: 2026 report. Gallup, Inc. https://www.gallup.com/workplace/349484/state-of-the-global-workplace.aspx
  6. IEEE-USA InSight. (2026). How to guard your team from the latest workplace phenomenon: Quiet cracking. https://insight.ieeeusa.org/articles/how-to-guard-your-team-from-the-latest-workplace-phenomenon-quiet-cracking/
  7. Jesse, P. (2026). The competence tax: Why high performers leave in silence. https://www.philjesse.com/the-competence-tax-why-high-performers-leave/
  8. Kompas.com. (2026a). Dedi Mulyadi soroti jomplang beban kerja dan tukin, munculkan istilah ASN elit dan ASN sulit. https://bandung.kompas.com/read/2026/06/26/175457478/dedi-mulyadi-soroti-jomplang-beban-kerja-dan-tukin-munculkan-istilah-asn
  9. Kompas.com. (2026b). Dedi Mulyadi kritik sistem tukin ASN: Jomplang, orang tak kerja tunjangannya lebih tinggi. https://bandung.kompas.com/read/2026/06/26/162142178/dedi-mulyadi-kritik-sistem-tukin-asn-jomplang-orang-tak-kerja-tunjangannya
  10. Kompas.com. (2026c). Otopsi sistemik produktivitas ASN. https://money.kompas.com/read/2026/07/20/163500026/otopsi-sistemik-produktivitas-asn
  11. Lattice. (2026). Doing non-promotable work? Here's how to write about it in your performance review. https://lattice.com/articles/doing-non-promotable-work-heres-how-to-write-about-it-in-your-review
  12. Media Indonesia. (2026). Dedi Mulyadi kritisi kesenjangan beban kerja dan penghasilan ASN. https://mediaindonesia.com/jabar/berita/904791/dedi-mulyadi-kritisi-kesenjangan-beban-kerja-dan-penghasilan-asn
  13. Moncayo-Rizzo, J., Alvarado-Villa, G., & Cossio-Uribe, C. (2024). The impact of illegitimate tasks on burnout syndrome in a healthcare system: A cross-sectional study. International Journal of Nursing Studies Advances, 6, 100185. https://doi.org/10.1016/j.ijnsa.2024.100185
  14. Nguyen, N., Tuan, L. T., & Khai, D. C. (2025). How illegitimate tasks inhibit public sector employees' innovative work behavior: The roles of cognitive flexibility and trust in leaders. Public Administration Review. https://doi.org/10.1111/puar.70015
  15. Ouyang, C., Zhu, Y., Ma, Z., & Qian, X. (2022). Why employees experience burnout: An explanation of illegitimate tasks. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(15), 8923. https://doi.org/10.3390/ijerph19158923
  16. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pedoman Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja. (2020).
  17. People Management. (2026). Performance punishment: Why increasing the workload of your high achievers is driving burnout and business risk. https://www.peoplemanagement.co.uk/article/1955370/performance-punishment-why-increasing-workload-high-achievers-driving-burnout-business-risk
  18. People Matters. (2026). More than 80% of Singapore employers report disengagement as 'quiet cracking' trend grows. https://sea.peoplemattersglobal.com/news/employee-engagement/more-than-80percent-of-singapore-employers-report-disengagement-as-quiet-cracking-trend-grows-49037
  19. Perceptyx. (2026). Quiet cracking: What causes employees to disengage. https://blog.perceptyx.com/employees-are-quiet-cracking-what-the-data-is-trying-to-tell-you
  20. Prokalteng. (2025). ASN di ambang burnout, angka pensiun terus bertambah, beban kerja PNS tidak turun. Jawa Pos. https://prokalteng.jawapos.com/humanoria/opini/01/12/2025/asn-di-ambang-burnout-angka-pensiun-terus-bertambah-beban-kerja-pns-tidak-turun/
  21. Zeng, X., Huang, Y., Zhao, S., & Zeng, L. (2021). Illegitimate tasks and employees' turnover intention: A serial mediation model. Frontiers in Psychology, 12, 739593. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.739593

Komentar

Masuk untuk ikut berdiskusi.

Masuk

Artikel terkait

Tanya admin