Lewati ke konten
Sharing ASN

Kala ASN Muda Memilih untuk Resign sebagai Exit Strategy yang bener-bener Exit.

AAdministrator ·4 Agustus 2026·5 menit baca

Pendahuluan: Karier Impian yang Mulai Dipertanyakan

Menjadi ASN dulu identik dengan kata "aman seumur hidup": gaji tetap, pensiun terjamin, dan status sosial ikut meningkat. Nggak heran, persaingan CPNS dan PPPK tiap tahun selalu ketat. Data terbaru dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) mencatat total ASN di Indonesia kini mencapai sekitar 6,7 juta orang, dengan komposisi pegawai yang didominasi oleh generasi muda hasil rekrutmen besar-besaran pada 2024–2025 (BKN, 2026). Tapi belakangan, narasi "ASN dambaan seumur hidup" ini mulai retak: makin banyak ASN muda, dari PNS sampai PPPK, justru mempertanyakan apakah karier di birokrasi masih sepadan dengan pengorbanan yang ditanggung (Tirto.id, 2026).

Selain itu, BKN mencatat 2.722 ASN mengundurkan diri pada semester I 2026, dimana ASN dengan masa kerja 0-5 tahun mendominasi sebesar 58% yang mengundurkan diri (Nugroho, 2026). Kenapa isu ini jadi obrolan hangat justru saat rekrutmen ASN sedang digalakkan besar-besaran?

Gap Kepemimpinan: Instruksi vs Bimbingan

Salah satu akar masalahnya terletak pada gaya kepemimpinan. Gen Z digambarkan mempertanyakan struktur kekuasaan lama dan menuntut pemimpin yang membimbing, bukan sekadar memberi instruksi satu arah (Ekorantt.com, 2026). Riset organisasi publik memperlihatkan bahwa budaya hierarkis yang kaku justru membuat perilaku kerja inovatif pegawai muda berbalik memicu niat resign, karena ide-ide segar mereka sering mentok pada tembok birokrasi (Choi, 2025). Sebaliknya, kepemimpinan transformasional yang suportif terbukti dapat menekan kelelahan emosional dan niat keluar pegawai pemerintah (Caillier, 2014, dikutip dalam Khalid dkk., 2024).

Kultur Feodal & "Asal Bapak Senang"

Selain leadership, kultur birokrasi Indonesia juga masih memiliki PR besar. Meski telah melewati delapan dekade merdeka, sistem ASN dinilai masih terjebak dalam warisan feodalisme kolonial yang mengutamakan loyalitas personal ketimbang kompetensi (Birokrat Menulis, 2025). Budaya "asal bapak senang" disebut masih hidup karena jenjang karier ASN mudah dipengaruhi oleh kedekatan politik dengan atasan atau kepala daerah, bukan semata-mata oleh rekam jejak kerja (Optika.id, 2026). Temuan ini sejalan dengan riset lintas negara: makin tertutup dan politis sistem kepegawaian sebuah birokrasi, makin tinggi pula niat pegawainya untuk resign (Suzuki, 2024).

Sudah Ada Mekanismenya, Tapi Belum Merata

Kabar baiknya, beberapa instansi mulai mencoba menata ini. Kementerian Keuangan, misalnya, punya program Coaching, Mentoring, dan Counseling (CMC) sekaligus jalur reverse mentoring, di mana ASN muda yang melek teknologi justru membimbing atasan senior tentang tren digital, sementara senior berbagi wawasan strategis (Widiatmanti, 2024). Lembaga Administrasi Negara juga rutin membuka pelatihan coaching dan mentoring lintas kementerian dan pemerintah daerah untuk memperkuat manajemen karier ASN secara berkelanjutan (Lembaga Administrasi Negara, 2023). Sayangnya, mekanisme seperti ini belum merata; banyak instansi lain masih menjalankan pola top-down lama dengan minimnya ruang bimbingan dua arah bagi pegawai baru (Jakarta Consulting Group, 2024).

Efek Bandingan — Swasta Kelihatan Lebih Menjanjikan

Ada juga faktor pembanding yang membuat ASN semakin enggan untuk bertahan. Survei Katadata Insight Center (KIC) tahun 2026 mencatat sekitar 88,3 persen anak muda lebih memilih bekerja di sektor swasta ketimbang menjadi ASN, bahkan ketika pendapatannya dianggap setara (Kompas.id, 2026). Keengganan ini juga dipicu oleh rentetan kasus dugaan korupsi di internal birokrasi yang membuat generasi muda semakin skeptis terhadap institusi negara (Kompas.id, 2026). Fenomena job-hopping ala Gen Z ini sebenarnya bukan cuma soal ASN. Riset PwC bahkan memprediksi gelombang resign global tahun ini bisa jadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir, seiring makin banyak pekerja muda meninjau ulang prioritas hidup dan keseimbangan kerja (Hypeabis.id, 2025).

Beban Psikologis yang Nggak Kelihatan

Di balik angka resign, ada beban psikologis yang jarang dibahas secara terbuka. Riset di sektor publik menemukan budaya kerja yang toxic berkontribusi langsung ke kelelahan emosional, tingkat absensi, dan turunnya efisiensi organisasi (Khalid dkk., 2024). Studi internasional di Taiwan terhadap pekerja sektor publik juga menemukan bahwa beban kerja tinggi dan minimnya keadilan di tempat kerja berkaitan erat dengan risiko gangguan kesehatan mental sekaligus niat untuk keluar dari sektor publik (Lin dkk., 2023). Kalau soal ini terus dianggap "baper" dan bukan masalah sistemik, jangan kaget kalau makin banyak ASN muda milih exit strategy beneran exit.

Okee ASN Emang Nggak Resign, Tapi Raganya Doang yang di Kantor, Pikirannya?

Nggak semua yang gerah sama sistem langsung mengajukan surat resign; sebagian memilih jalan sunyi: quiet quitting. Secara administratif, kerjaan tetap kelar dan laporan tetap selesai, tapi empati dan inovasi pelan-pelan menghilang, sementara diam-diam mereka menyiapkan "sekoci penyelamat" lewat beasiswa, bisnis sampingan, sampai lirik-lirik startup (Kompas.com, 2026). Riset internasional bahkan menemukan pola serupa: quiet quitting sering muncul berbarengan dengan moonlighting alias kerja sampingan diam-diam, sebagai respons pegawai terhadap rasa dieksploitasi dan budaya kerja yang penuh kongkalikong internal (Ngo & Tran, 2026). Di Indonesia, gejalanya terlihat nyata, terlihat dari survei Lembaga Administrasi Negara yang mencatat sekitar 62 persen ASN memiliki penghasilan tambahan di luar gaji pokok, mulai dari jualan online, jadi content creator, sampai live streaming, dan sebagian dilakukan di sela jam kerja (Lembaga Administrasi Negara, 2023, sebagaimana dikutip dalam Jatengnews.id, 2026). Buat instansi, ini alarm serius: kantor kelihatan penuh, tapi kalau rasa memiliki (ownership) sudah pindah ke bisnis sampingan, jangan kaget kalau layanan publik jalan di tempat (Kompas.com, 2026).

Saran untuk Instansi

  • Perkuat sistem merit, perluas coaching-mentoring dua arah (bukan hanya top-down), dan hadirkan pemimpin yang memberi ruang bagi suara pegawai baru, bukan hanya perintah (Khalid dkk., 2024; DJKN Kemenkeu, 2024).

Saran untuk ASN Muda

  • Rutin cek keselarasan ekspektasi karier dengan realita kerja, aktif cari mentor internal, dan berani speak up lewat jalur formal sebelum rasa nggak nyaman menumpuk dan jadi keputusan resign dadakan atau malah pelan-pelan quiet quitting. Pahami juga hak dan mekanisme resminya (Nugraha, 2025).

  • Gabung grup Whatsapp Sharing ASN. Ada banyak orang di sana yang siap adu nasib denganmu. Cara gabungnya: klik tautan di bio.

Kesimpulan: Bukan Soal Gaji Doang, Ini Soal Sistem

Tren ASN muda resign atau memilih bertahan secara raga lewat quiet quitting dan side hustle bukan cuma soal gaji atau gengsi swasta versus pemerintah, tapi soal ketidakcocokan sistem: kepemimpinan yang belum transformatif, kultur birokrasi yang masih feodal, beban psikologis yang menumpuk, dan daya tarik sektor swasta yang makin kuat, sampai minimnya ruang berkembang buat pegawai baru (Kompas.id, 2026; Birokrat Menulis, 2025). Selama gap ini belum dibenahi, cerita resign, baik yang terang-terangan maupun "resign diam-diam" ala ASN muda, kemungkinan bakal terus muncul dan makin ramai jadi obrolan di lini masa (Comfortezone.id, 2026; Tirto.id, 2026).

Referensi

  1. Badan Kepegawaian Negara. (2026). Kelola karier 6,7 juta ASN, BKN fokus perkuat digitalisasi dan sistem merit.
  2. Birokrat Menulis. (2025). Feodalisme: Akar segala keburukan birokrasi.
  3. Choi, I. (2025). The dark side of innovative work behavior: Turnover intention in public service and the moderating role of hierarchical organizational culture. International Review of Administrative Sciences.
  4. Comfortezone.id. (2026). Fenomena Gen Z resign dari ASN karena kecewa soal gaji.
  5. Ekorantt.com. (2026). Generasi Z dan penolakan terhadap kepemimpinan feodal.
  6. Hypeabis.id. (2025). Hypereport: Fenomena musim resign setelah Lebaran 2025.
  7. Jakarta Consulting Group. (2024). Cara efektif reverse mentoring hilangkan ageisme di tempat kerja.
  8. Jatengnews.id. (2026). Fenomena side hustle ASN dalam perspektif sistem kompensasi dan motivasi kerja.
  9. Khalid, A., dkk. (2024). The psychological impact of toxic work culture in the public sector: A study on government employees. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 14(12).
  10. Kompas.com. (2026). Quiet quitting ASN: Alarm senyap di balik sibuknya birokrasi.
  11. Kompas.id. (2026). Gen Z, swasta, dan pudarnya romantisme jadi ASN.
  12. Lembaga Administrasi Negara. (2023). Coaching dan mentoring langkah strategis optimalkan sistem manajemen karir ASN.
  13. Lin, M.-W., Wang, Y.-T., & Cheng, Y. (2023). Psychosocial work conditions during the COVID-19 pandemic and their influences on mental health risk and intention to leave among public health workers: A cross-sectional and follow-up study in Taiwan. Safety and Health at Work, 14(4), 438–444.
  14. Ngo, Q. A., & Tran, H. P. (2026). Quiet quitting in the context of high performance work practices: The nexus of perceived organizational exploitation, organizational cronyism and employee moonlighting. Journal of Organizational Change Management, 39(3), 701–722.
  15. Nugraha, M. R. (2025). Apakah ASN boleh resign? Hukumonline.
  16. Optika.id. (2026). Dialektika birokrasi feodal dan birokrasi meritokrasi: Intervensi oligarki dan pemerintahan bayangan.
  17. Suzuki, K. (2024). Politicization, bureaucratic closedness in personnel policy, and turnover intention. Governance.
  18. Nugroho, Novali Panji. (2026). Ribuan ASN mengundurkan diri. Apa Sebabnya?. Jakarta: Tempo
  19. Tirto.id. (2026). Tak menunggu pensiun, mengapa sebagian ASN muda memilih resign?
  20. Widiatmanti, H. (2024). Peran widyaiswara dalam implementasi pembelajaran terintegrasi coaching, mentoring dan counseling di Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Jurnal Widyaiswara Indonesia, 4(4), 115–130.

Komentar

Masuk untuk ikut berdiskusi.

Masuk

Artikel terkait

Tanya admin